Bahaya Adiksi Pornografi

Oleh : K. Yulie Wardani, S.Pd Staf Pengajar SMP Negeri 1 Taman Krocok

82
Ilustrasi (foto : google)

SANTER diberitakan, telah terjadi lima kasus pemerkosaan yang menimpa gadis di bawah umur di Bondowoso. Kabar ini sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan karena terjadi dalam kurun waktu sebulan. Para pelaku saat diinvestigasi mengaku perbuatannya itu diilhami seringnya menonton tayangan untuk orang dewasa di internet.

Pelaku juga mengaku, dirinya dan juga teman-teman yang ada di desanya sering mendapat konten-konten porno tersebut dari handphonenya. Hal tersebut diakui Samsul (25), salah seorang pelaku perkosaan gadis di bawah umur yang kini sudah menjadi tersangka.

Samsul menuturkan tak jarang dia bersama teman-temannya sengaja mengunduh foto dan video porno. Hasil unduhan di smartphone itu kemudian ditonton beramai-ramai. Bahkan, di antara mereka seolah bersaing untuk mengunduh yang paling bagus.

Berita ini membuat siapapun yang membaca akan mengelus dada dan beristighfar.

Smartphone: Pisau Bermata Dua

Sebagai mahluk sosial, berkomunikasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tidak heran jika perkembangan sarana telekomunikasi dari waktu ke waktu sangat pesat dan menakjubkan seiring dengan semakin tingginya mobilitas manusia. Dari sekian banyak penemuan bidang telekomunikasi, telepon seluler merupakan penemuan yang paling menentukan arah perubahan gaya hidup manusia.

Awal kemunculannya pada tahun 2000-an, ponsel hanya bisa melakukan panggilan dan mengirim pesan singkat. Harganya pun mahal. Kala itu, hanya orang-orang kaya dan punya kesibukan tinggi saja yang mampu membelinya. Akan tetapi berbeda kini, ponsel telah bertransformasi luar biasa.  Benda berukuran 4-6 inch ini bisa melakukan tugas bermacam-macam: seluruh tugas kantor  bisa dikerjakan via ponsel, mengambil gambar dengan kualitas kamera DSLR, menonton jutaan video, melakukan panggilan video, dan sebagainya. Meskipun canggih, harganya justru cukup ramah di kantong. Tidak heran jika anak kecil sampai kakek-kakek bisa memiliki smartphone.

Di tengah potensi menakjubkan sebuah ponsel, ada bahaya lainnya mengintai. Apa itu? Adiksi. Adiksi yang ditimbulkan oleh ponsel bisa beragam: kecanduan bersosial media, kecanduan game online, dan yang paling berbahaya adalah adiksi konten pornografi baik berupa gambar hingga video. Kecanduan Facebook, Line, game PUBG, CoC, dan sejenisnya hanya akan merugikan diri pengguna. Namun, adiksi pornografi bisa membahayakan orang-orang terdekatnya juga lingkungan.

Efek kecanduan dari menonton tayangan berkonten porno selalu menuntut adanya pemuasan. Masalah akan semakin runyam jika pelaku melampiaskan hasrat seksualnya serampangan. Dia akan melakukannya secara acak pada sesiapa saja yang ditemuinya. Publik tentu tidak lupa dengan kasus pemerkosaan dan terbunuhnya Yuyun, siswi SMP asal Bengkulu tahun 2016 lalu. Korban yang saat itu pulang sekolah dicegat oleh 14 pemuda, sebagiannya masih anak-anak yang teradiksi pornografi dan alkohol. Keempat belas pelaku memuaskan nafsu bejatnya bahkan saat korban sudah tidak bernyawa. Sungguh sebuah kebiadaban tidak terkira.

Kebiadaban yang dilakukan oleh para pecandu pornografi memang sangat mungkin dilakukan. Seorang ahli bedah otak dari Amerika Serikat, dr. Donald Hilton Jr, menyebutkan bahwa kecanduan pornografi merupakan penyakit karena merusak otak. Bagian otak yang paling terdampak adalah prefrontal cortex (PFC), yaitu bagian yang berperan membuat perencanaan, membuat keputusan, dan pengendali impuls-impuls. Jika bagian ini rusak, maka manusia tidak ubahnya seperti binatang.

Daya rusak konten pornografi yang demikian menyeramkan ini bukan tidak diketahui oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pada zaman Menkominfo, Tifatul Sembiring, penutupan website pornografi sudah banyak dilakukan. Bukannya semakin sedikit, website-website ini justru semakin menjamur. Maka sejak 2018, Kementerian Kominfo mengurangi peredaran konten pornografi dengan metode Forced Saved Search Engine. Sebuah metode yang membuat pencarian berbau porno di internet menjadi tidak berjalan. Apakah efektif? Sepertinya tidak. Terbukti sampai hari ini kasus pemerkosaan akibat kelakuan pecandu pornografi terus berjatuhan.

Selain pemerintah, sebenarnya pihak Google dengan aplikasi turunannya, Facebook, dan media sosial lainnya telah melengkapi upaya perlindungan penggunanya dari konten berbau porno. Namun, tidak semua pengguna Android paham cara mengaktifkan fitur mode terbatas tersebut. Akhirnya, para pemakai Android mudah terpapar pornografi.

 Adakah Solusi ?

Dengan smartphone yang terkoneksi pada jaringan internet, maka fakta dunia sangat luas menjadi tidak berlaku lagi. Internet telah mengubah dunia seolah seluas kampung dan keberadaan negara seperti rumah-rumah. Tidak akan mempan perlindungan sebuah rumah jika seluruh kampung tidak melindungi dari hal yang sama. Tidak akan selesai masalah pornografi dan dampaknya, jika tidak ada kesatuan pendapat tentangnya. Pornografi dinilai berbahaya oleh sebuah negara, tetapi bisa jadi negara lain tidak menganggapnya begitu karena pemenuhan hasrat seksual termasuk ke dalam ranah privat.

Demikianlah jika penilaian berbahaya tidaknya dan baik buruknya sebuah perilaku diserahkan kepada manusia. Terlebih penilaian itu diserahkan kepada mereka yang sejak awal memang tidak menerima keberadaan Sang Pencipta sebagai Dzat yang berhak mengatur seluruh kehidupan, maka wajar jika semakin hari semakin banyak kejahatan terjadi. Jadi, sebagai awal langkah penyelesaian dari adiksi pornografi adalah dengan menyamakan persepsi tentang bahaya dan penilaian baik buruknya menurut standar Dzat yang menciptakan manusia. Berikutnya bersama-sama memeranginya secara global sehingga dunia maya steril dari konten-konten berbau porno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here