Bondowoso “Kabupaten Layak Anak”, Darurat Pedofilia!

Oleh: Fita Erviana Sinta, S.Pd Alumni FKIP UNEJ – Bahasa dan Sastra Indonesia Pemerhati Remaja

274
Ilustrasi (foto : Google)

TAHUN 2017 yang lalu Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur mendapat penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai Kabupaten Layak Anak.

Seperti diketahui, dalam mengembangkan Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) , di setiap kabupaten/kota terdapat 24 indikator pemenuhan hak dan perlindungan anak yang secara garis besar tercermin dalam lima cluster hak anak. Adapun kelima cluster itu meliputi hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, dan perlindungan khusus bagi 15 kategori anak.

Namun sungguh sangat disayangkan di tengah predikat Bondowoso sebagai Kabupaten Layak Anak, dalam kurun 3 bulan terjadi tiga kali kasus perkosaan anak di bawah umur. Yakni kasus perkosaan gadis di bawah umur di hutan pinus daerah Grujugan, Sabtu (9/3/2019). Kemudian pada Selasa (2/4/2017), seorang pria paruh baya di Kecamatan Tapen melakukan perkosan terhadap gadis berusia 13 tahun yang masih tetangganya. Terbaru, seorang anak di bawah umur berusia 8 tahun yang masih duduk di sekolah dasar (SD) mengalami kekerasan seksual berkali-kali oleh kerabatnya sendiri. Melihat kecenderungannya Bondowoso bisa dikatakan dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak.

Jika melihat maraknya kasus predator anak, pada cluster perlindungan khusus bagi anak yang indikatornya mencakup korban kekerasan dan eksploitasi, korban pornografi dan situasi darurat perlu mendapatkan perhatian. Secara kelembagaan indikator KLA ini selain diatur dalam perda KLA juga butuh adanya dukungan dan keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan media.

Namun faktanya dengan bercokolnya sistem kapitalisme dengan ide dasar kebebasan dan individualisme keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan media hanyalah isapan jempol belaka. Terutama kontrol masyarakat yang sudah hilang di tengah-tengah kehidupan kita.

Disamping lemahnya keimanan individu, berbagai tayangan vulgar mudahnya akses pornografi di media juga disinyalir menjadi pemicu kekerasan seksual terhadap anak. Dari beberapa pelaku pelecehan yang diwawancara mengaku mereka terpancing melakukan perbuatan amoral tersebut karena terpengaruh oleh tayangan pornografi yang diakses melalui handphone.

Di dalam kehidupan sekarang dimana pola pikir masyarakat teracuni oleh pemikiran bebas ala orang-orang liberal yang menstandarkan kebahagiaan adalah terpenuhinya sarana yang bisa mewujudkan kebahagiaan / kenikmatan fisik. Termasuk kebutuhan seksual mereka berpendapat bahwa kebutuhan ini harus dipuaskan dengan fantasi- fantasi seksual. Sehingga dunia usaha pun selalu membuat berbagai cara atau sarana untuk memuaskan kebutuhan seksualnya itu.

Semisal dengan membuat video-video porno, gambar-gambar sensual, lirik lagu yang memancing syahwat, cerita-cerita porno dalam bentuk buku atau novel sampai membuat komunitas bagi mereka yang memiliki orientasi seksual bermacam-macam. Ini semua demi untuk mendapatkan kepuasan seksual yang mereka dambakan. Ironisnya anak-anak dibawah umur lah yang menjadi korbannya.

Islam Solusi Masalah Predator Anak

Kebutuhan seksual bukanlah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi bias menyebabkan bahaya apalagi kematian pada seseorang. Sebenarnya kebutuhan seksual berasal dari naluri seksual yang jika tidak dipenuhi hanya akan membuat seseorang gelisah. Dan naluri ini tidak akan pernah menuntut pemenuhan jika tidak ada rangsangan dari luar. Yang menjadi masalah adalah justru dalam masyarakat sekuler sarana untuk merangsang naluri ini bertebaran dengan bebas, bahkan di produksi atau di industrialisasi.

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mekanisme untuk mencegah dan mengatasi masalah kekerasan seksual terhadap anak. Dan menjadi kewajiban pemerintah untuk menciptakan keamanan bagi seluruh rakyatnya termasuk anak-anak dari pusat hingga daerah.

Rasulullah saw. bersabda terkait dengan tanggung jawab pemimpin : “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). Dalam hadits lainnya, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Sementara itu, beberapa langkah yang seharusnya diambil oleh pemerintah dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual (predator anak) diantaranya : menyediakan lapangan kerja yang luas agar kepala keluarga dapat bekerja dan memberi nafkah untuk keluarganya. Dengan jaminan seperti ini, para ibu tidak perlu bekerja sehingga bisa berkonsentrasi menjalankan tugas utamanya mendidik, memantau dan menjaga anak-anaknya.

Pemerintah dan masyarakat wajib menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah mereka. Negara membina warganya sehingga mereka menjadi manusia yang bertaqwa dan memahami hukum-hukum agama. Negara mengatur mekanisme peredaran informasi di tengah masyarakat. Memfilter semua informasi yang beredar di masyarakat dengan pengawasan departemen informasi. Media massa di dalam negeri bebas menyebar informasi yang dapat memberikan pendidikan bagi masyarakat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat.

Negara mengatur kurikulum sekolah yang bertujuan membentuk kepribadian luhur dengan standart syariat bagi para siswa. Menerapkan aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat berdasarkan hukum-hukum syara’. Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, menahan pandangan, menjauhi ikhtilat (interaksi laki-laki dan perempuan) yang diharamkan, dan seterusnya.

Menjatuhkan hukuman tegas terhadap perbuatan amoral termasuk para penganiaya dan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Dalam Islam, pelaku perzinaan dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila pelaku sudah menikah. Hukuman mati bagi perbuatan sodomi. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai denda 1/3 dari 100 ekor unta, atau sekitar 750 juta rupiah. Para korban sodomi akan direhabilitasi dan ditangani secara khusus untuk menghilangkan trauma dan menjauhkan mereka dari kemungkinan menjadi pelaku pedofilia baru dihari kemudian.

Jika individu, masyarakat dan negara bersinergi dengan baik dalam pengentasan kasus pelecehan seksual, maka bukan hanya daerah tapi negeri inipun akan menjadi sangat aman dan layak bagi anak-anak kita. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here