DPRD Bondowoso Dukung Ekskavasi ‘Peninggalan Kerajaan Majapahit’

429
Ketua DPRD Bondowoso Ahmad Dhafir bersama Wakil Ketua DPRD Sinung Sudrajad serta Forkopimda saat meninjau langsung keadaan situs di Desa Alas Sumur

BONDOWOSO – Penemuan situs yang diduga peninggalan Kerajaaan Majapahit di Desa Alas Sumur Kecamatan Pujer Kabupaten Bondowoso, mendapat respon positif dari pimpinan dan anggota DPRD setempat.

Para wakil rakyat ini langsung mendatangi kediaman Abdul Ghani dan melihat langsung batu bata kuno, fragmen porselen yang ditemukan di dalam sumur berkedalaman sekitar 6 meter disamping rumah miliknya, Rabu (23/9/2020).

Atas temuan itu, DPRD Kabupaten Bondowoso mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk melakukan ekskavasi terhadap peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut.

Menurut Wakil Ketua DPRD Sinung Sudrajad, penemuan ini sangatlah penting dan unik. Karena, di pusat peninggalan megalitikum, terdapat peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.

“Ini unik dan kami sangat perhatian atas situs peninggalan Kerajaan Majapahit ini. Sebagai bentuk upaya eksvakasi, anggaran dari APBD yang dibutuhkan untuk geolistrik dan eskavasi awal sekitar Rp150 juta,” katanya didampingi Ketua DPRD, bersama Forkopimda.

Politisi PDIP yang juga ahli sejarah ini juga mengatakan, atas dasar geolistrik dan eskavasi awal, nanti bisa diperkirakan bagaimana bentuk atau struktur-struktur lain yang ada disekitar tempat temuan itu.

“Karena yang baru ketemu adalah pagarnya. Logika kita bagi orang awam, ketika ada pagar berarti ada yang dilindungi dari pagar tersebut,” urainya.

Dijelaskannya, dengan adanya geolistrik dan eskavasi, maka pastinya akan ada kajian-kajian dan rencana awal. Kalau pun benar ada suatu bentuk bangunan berupa candi ataupun semacamnya.

Sinung Sudrajad, Wakil Ketua DPRD Bondowoso saat dikonfirmasi

“Yang nantinya ketika itu kita kelola dengan serius, paling ndak berdampak pada perberdayaan ekonomi masyarakat,” harapnya.

Keberadaan temuan benda kuno yang diidentifikasi situs peninggalan Kerajaan Majapahit itu berada di tengah permukiman warga Desa setempat. Kata dia, dimungkin bisa kemudian dilestarikan, yang tentunya hal itu harus dengan kesadaran masyarakat dan juga pendekatan yang baik dari stakeholder Pemerintah Kabupaten Bondowoso.

“Insyaallah masyarakat pasti sadar apa pun yang akan dilaksanakan oleh pemerintah terkait dengan pelestarian, perlindungan cagar budaya, insyaallah bisa,” urainya.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Disdikbud Kabupaten Bondowoso Hery Kusdarijanto mengatakan, untuk geolistrik sendiri pihaknya telah sepakat bersama BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) untuk kemudian dilakukan. Karena menurutnya, hal itu menjadi point penting untuk mengetahui keberadaan tanah, struktur batu bata yang ada.

“Eskavasi juga merupakan poin penting, bagaimana bila nanti mempunyai nilai sejarah tinggi, tentu akan kita kembangkan,” katanya.

Akan tetapi apabila kemudian hal itu hanya sekedar batu bata atau pondasi biasa, maka untuk sementara dimungkinkan akan ditutup. Namun dengan catatan, apabila suatu saat ada poin penting lagi. Maka pihaknya akan membuka kembali.

“Yang penting data itu tetap ada,” ulasnya.

Heri mengaku, bahwa untuk geolistrik yang paling adalah dengan menggunakan ITS. Adapun aggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 75 juta.

“Pengennya kita yang terbaiklah. Kita anggarkan Rp 75 dan eskavasi Rp 75. Kita belum tau pasti, sepertinya dianggaran 2021,” katanya.

Kemudian apabila cagar budaya ini mempunyai nilai yang sangat penting. Maka tentu pihaknya akan membangun secara bertahap dan juga pastinya akan mengajukan bantuan pada Pemerintah Pusat. Namun mengingat, kondisi sekitar yang padat akan pemukiman warga.

“Kemarin juga disinggung sama BPCB. Coba lihat dulu nilai pentingnya, apabila tidak terlalu penting kita tutup kembali atau tetap dibuat sumur, tapi harus ada catatan bahwa di daerah sini ada struktur batu bata,” jelasnya.

Sementara berdasarkan data dihimpun, penemuan situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Dusun Alas Sumur Selatan Desa Alas Sumur Kecamatan Pujer Bondowoso itu, terdapat 77 KK (Kepala Keluarga) dengan rumah warga yang saling berdekatan. (ich/rzq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here