Kaya Situs Sejarah, Bondowoso Layak Jadi Kota Megalitikum

595
Prosesi penyematan kalungan bunga melati pada replika batu kenong, yang merupakan peninggalan sejarah megalitikum di Bondowoso

BONDOWOSO – Kabupaten Bondowoso ternyata tidak hanya kesohor dengan cita rasa kopi dan tape manisnya saja. Namun, kota dengan ikon Gerbong Maut ini menyimpan ribuan peninggalan zaman sejarah.

Pantas saja jika Bondowoso disebut juga dengan kota megalitikum. Pasalnya, di kabupaten berjuluk Republik Kopi ini terdapat ribuan benda peninggalan zaman megalitikum yang tersebar di berbagai wilayah.

Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Bondowoso sebagai kota megalitikum tahun 2018. Pencanangan tersebut diaplikasikan dalam sebuah event bertajuk ruwatan budaya megalitik yang dikemas dalam acara etno parade budaya.

“Ini merupakanevent awal untuk mencari potensi yang ada, khususnya di bidang seni dan budaya. Salah satu potensi emas Bondowoso adalah sebaran kekayaan megalitik yang jarang dimiliki daerah lain, khususnya di Jawa Timur,” kata Endang Hardiyanti Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso, Sabtu (1/12/2018) di Alun-alun Ki Bagus Asra.

Catatan Disdikbud, peninggalan megalitikum sampai tahun 2018, tercatat berjumlah 1.215 benda. Temuan tersebut berdasarkan rekomendasi dari hasil kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat di sekitar cagar budaya, dan buah hasil kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Timur.

“Sebaran megalitikum yang ada di Bondowoso layak untuk mendapatkan predikat Bondowoso sebagai pusat budaya megalitik di Jawa Timur. Potensi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk mencanangkan Bondowoso sebagai kota megalitikum,” terang Endang dalam laporannya.

Kegiatan etno parade budaya yang pertama digelar oleh Pemkab Bondowoso ini, merupakan kegiatan yang bersifat apresiasi dan edukasi, sebagai upaya pengenalan seni tradisi dan sejarah purbakala, khsusunya megalitikum, dalam rangka mendukung, upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya.

“Kedepan, kami akan berupaya untuk terus menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan tahunan, untuk memperkenalkan Bondowoso sebagai kota megalitikum,” harap Endang Hardiyanti, mengakhiri sambutannya.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bondowoso, Sinung Sudrajat

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Kesenian Bondowoso, Sinung Sudrajat mengatakan, event ini menjadi kerangka awal untuk mensosialisasikan, jika Bondowoso layak untuk menjadi pusat megalitikum di Jawa Timur.

“Dengan ditopang dukungan seni tradisi asli, kreasi dan kolaborasi, keberadaan 1.215 benda sejarah peninggalan zaman megalitikum di Bondowoso harus dikembangkan sehingga mampu menjadi daya tarik masyarakat dari luar Bondowoso untuk berbondong-bondong datang ke Bondowoso,” ujarnya.

Nantinya, Sinung berharap peninggalan situs purbakala di Bondowoso dan perayaan etno budaya terus dikembangkan, sehingga acara semacam ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat Bondowoso saja. Akan tetapi menjadi daya tarik dan destinasi wisata edukasi sejarah yang mampu menarik minat wisatawan.

“Mari kita raih masa depan Bondowoso yang lebih baik, tanpa harus meninggalkan seni tradisi, budaya dan sejarah masa silam,” cetusnya.

Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin

Sementara, Bupati KH Salwa Arifin dalam sambutannya menyambut baik upaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam melestarikan peninggalan budaya dan sejarah megalitikum. Bahkan, nilai-nilai sejarah dan pengembangan wisata sejarah di Bondowoso diharapkan bisa diteruskan dan menjadi agenda tahunan.

“Bondowoso merupakan surga situs megalitikum yang tersebar di beberapa tempat, situs ini mengandung nilai sejarah yang menjadi potensi untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah. Ini tugas bersama, agar kekayaan situs sejarah bisa memberikan multiplier effect bagi masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.

Seperti diketahui, gelaran etno parade budaya yang pertama kali digelar ini menampilkan berbagai kesenian asli Bondowoso. Bahkan, ada arak-arakan gunungan kue yang diiringi oleh ratusan warga yang mengenakan pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia.

Pencanangan Bondowoso sebagai kota megalitikum ini juga ditandai dengan penyematan kalungan bunga melati oleh Bupati KH Salwa Arifin bersama Forkopimda, Ketua Dewan Kesenian, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Timur. (rizqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here