Ketiga Tertinggi se Jatim, Pemkab Bondowoso Fokus Tangani Stunting

56
Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin saat memberikan sambutan di Pendopo

BONDOWOSO – Tingginya angka stunting (gizi buruk) di Kabupaten Bondowoso, menjadi pembahasan penting di era pemerintahan Bupati KH Salwa Arifin dan Wakil Bupati H Irwan Bachtiar.

Saat ini, angka stunting di kota tape ini menempati urutan ketiga tertinggi se- Jawa Timur. Untuk itu Pemkab setempat menggelar rembug stunting di Pendopo Bupati, Selasa (9/7/2019).

Menurut Bupati, upaya untuk menekan angka stunting mampu memberikan efek kepada terputusnya mata rantai kemiskinan. Karena, stunting di Bondowoso terjadi di wilayah miskin.

“Kegiatan ini, saya harapkan dapat memutus mata rantai siklus kemiskinan, gizi buruk dan kekerdilan di Kabupaten Bondowoso,” urai Bupati Salwa dalam sambutannya.

KH Salwa Arifin meminta Dinas Kesehatan untuk benar-benar memberikan ruang kepada seluruh tenaga medis, dalam memfungsikan tugas mereka sebagai pelayan masyarakat, supaya pengentasan stunting yang menjadi target pemerintah dapat segera terwujud.

“Hal ini dapat diwujudkan apabila seluruh tenaga medis, kader posyandu, serta fungsi pelayanan kesehatan benar-benar diperankan untuk melayani masyarakat,” tegasnya.

Sementara, menurut Kepala Dinas Kesehatan, Mohammad Imron mengatakan, saat ini Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpinnya telah memetakan wilayah khusus penanganan stunting.

“Saat ini kami fokus untuk penanganan stunting di 19 desa yang tersebar di 8 kecamatan,” terangnya. 

Hal tersebut berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesahatan Dasar) tahun 2013 dan riset kesehatan dasar pada tahun 2018. Dimana, tahun 2013 prevalensi stunting berada pada angka sangat tinggi, kemudian pada tahun 2018, telah turun dari angka 56 persen menjadi 38 persen. Namun demikian, angka tersebut dinilai masih tinggi.

“Penanggulangan gizi buruk dan stunting di Bondowoso sudah ada penurunan, akan tetapi ini masih belum sesuai target kita. Maka dari itu kita terus melakukan upaya, salah satunya penanganan di 19 desa itu, dan target kita kalau bisa di bawah 10 persen,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan anak balita akibat kekurangan Gizi kronis, utamanya pada usia 1.000 hari pertama Kelahiran (HPK). Kondisi gagal tersebut disebabkan oleh kurangnya asupan Gizi dalam waktu yang lama. (yudi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here