Mantan Sekdes Maskuning Kulon Diduga Embat Uang Warga

497
KORBAN : Sahaji atau P. Ika, warga RT.2/RW.2 Desa Maskuning Kulon

BONDOWOSO – Mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Maskuning Kulon yang saat ini mencalonkan diri untuk maju di Pilkades serentak 15 November 2021 mendatang, diduga mengembat uang warga dengan dalih untuk biaya pembuatan akta jual beli tanah.

Hal tersebut terungkap atas pengakuan salah satu warga Desa Maskuning Kulon yang menjadi korban pembuatan akta jual beli tanah, ketika Sekdes bernama Sudarsono masih menjabat, 3 tahun silam.

Dikisahkan Sahaji atau P. Ika, warga RT.2/RW.2 Desa Maskuning Kulon Kecamatan Pujer, dirinya membeli sepetak tanah pekarangan milik Ibu Arsin. Lantaran dirinya tak mengetahui cara atau proses jual beli tanah, dia meminta bantuan kepada Sekdes yang bernama Sudarsono untuk mengurus akta jual beli dengan membayar uang sebesar Rp 3,7 juta.

Namun, hingga 3 tahun lamanya, pembuatan akta jual beli yang dipasrahkan kepada Sekdes Sudarsono yang kini telah mengundurkan diri untuk ikut serta dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 15 November 2021 mendatang ini, tak kunjung selesai.

“Iya benar saya sudah bayar Rp 3,7 juta untuk biaya pembuatan akta jual beli tersebut kepada Sekdes Sudarsono. Karena tanah itu memang dibagi dua dengan P. Wahyun, masing-masing dari kami membayar uang sejumlah Rp 1.850.000 Tapi hingga saat ini belum ada kelanjutan,” ungkapnya, Rabu (22/9/2021), saat ditemui di kediamannya.

Karena tak kunjung ada kejelasan tentang akta jual beli yang diurusnya tiga tahun lalu, dirinya dan P. Wahyun kembali mengurus akta itu kepada Sekdes yang baru yang menggantikan Sudarsono. Namun, biayanya hanya Rp 3 juta.

“Saya membayar Rp 3 juta, artinya saya dan P.Wahyun masing-masing mengeluarkan uang sebesar Rp 1,5 juta. Katanya sudah selesai, tapi belum saya ambil ke balai desa,” imbuh Sahaji.

Sementara, mantan Sekdes Maskuning Kulon Kecamatan Pujer, Sudarsono menjelaskan, akta jual beli yang diurusnya tiga tahun lalu itu terkendala lantaran ada ahli waris yang mendatangi dirinya untuk meminta kompensasi atas jual beli sepetak tanah pekarangan milik ibu Arsin itu.

“Data awal itu, ahli waris hanya satu, tapi berjalannya waktu ternyata silsilah ahli waris bukan hanya satu orang. Itu yang menjadi alasan kenapa akta jual beli tersebut tak kunjung rampung. Karena memang saya pending atau ditangguhkan dulu, alasannya, salah satu ahli waris ada yang meminta kompensasi atas penjualan tanah tersebut dan tak setuju untuk membubuhkan tanda tangannya,” jelasnya, Kamis (23/9/2021), melalui sambungan teleponnya.

Bahkan, dirinya menampik jika uang yang diserahkan oleh Sahaji untuk biaya pembuatan akta jual beli itu masuk ke kantong pribadinya.

“Uang atau biaya itu sudah disetorkan untuk pengurusan akta jual beli sepetak tanah tersebut, termasuk diambil kepala desanya dan waktu itu masih Pak Unang Rahardjo. Artinya, pengalokasiannya sudah jelas,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Minggu (10/10/20210), Unang Rahardjo juga menampik atas pernyataan dari Sudarsono. Bahkan, dirinya secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menerima uang atas pengurusan akta jual beli yang dikatakan mantan Sekdes Maskuning Kulon itu.

“Kalau saya menerima ya pasti ada tandatangan dari saya untuk pengurusan akta jual beli itu. Saya tidak pernah merasa menerima uang sepeserpun dari Pak Sudarsono waktu itu,” pungkasnya. (yudis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here