Memprovokasi Gerakan Literasi

Oleh : Moh. Mahrus Hasan

150
Ilustrasi (sumber : google)

DI tahun pelajaran 2018-2019 ini, saya ditunjuk sebagai koordinator ekstra kurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di MAN Bondowoso. Saya menyambut baik penunjukan ini karena diharapkan KIR ini menghasilkan karya ilmiah remaja yang bisa memprovokasi gerakan literasi, khususnya untuk pelajar. Saya bisa bekerja sama dengan Baratha Post untuk publikasi hasil KIR tersebut. Dan saya yakin Baratha Post sangat welcome, karena publikasi juga merupakan provokasi yang efektif.

Beragam gerakan literasi telah digelorakan oleh pemerintah bersama seluruh stakeholders, seperti Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Satu Guru Satu Buku (Sagu-Sabu), Gerakan Literasi Nasional (GLN), dan Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku (Gernas Baku). Presiden Joko Widodo juga telah mencanangkan Gerakan Nasional Gemar Membaca pada 17 Mei 2017.

Terbaru, sejak 6 April 2018, Pemprov Jatim sudah meluncurkan Gerakan Literasi (G-Literasi) untuk guru. Tujuannya, agar gerakan literasi tidak hanya wajib bagi peserta didik, tetapi juga untuk para guru, khususnya penerima Tunjangan Profesi Pendidik (TPP). Kepala Dindik Prov Jatim Dr. Saiful Rachman menegaskan bahwa para guru harus membeli buku dari dana TPP tersebut untuk meningkatkan wawasannya. Selanjutnya, dengan buku tersebut, para guru harus menulis dengan cara meresume, meresensi, dan membedah buku tersebut. Atau menjadikannya sebagai referensi karya tulisnya. G-Literasi ini sebagai bagian evaluasi terhadap para guru penerima TPP tersebut.

Berkaitan dengan pentingnya gerakan literasi itu, A.S. Laksana menulis (Jawa Pos, 22/4/2018) bahwa Prof. Mariah Evans dari Universitas Nevada Amerika Serikat bersama timnya melakukan studi selama 20 tahun di 27 negara untuk melihat pendidikan anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga. Temuannya: memiliki buku sendiri di rumah sama pentingnya dengan dengan memiliki orang tua terpelajar.

Apalagi data UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dalam setiap 1000 (seribu) orang, hanya ada 1 (satu) orang yang punya minat baca. Demikian juga dengan survei Most Littered Nation In the World 2016 yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara. Sungguh memalukan dan memilukan.

Problem kekinian masyarakat kita sudah bukan lagi buta huruf (illiterare), tetapi minat baca yang menurut Anies Baswedan adalah daya bacanya yang rendah. Indikasinya, minat baca medsos tinggi sekali dan kuat memelototi layar gawai berjam-jam, namun tidak tahan membaca buku. Tak terkecuali di kalangan pelajar, mahasiswa, dan guru/dosen yang juga menjadi korban propaganda televisi (budaya nonton).

Dampaknya, pola pikir mereka menumpul dan tergantikan dengan budaya meniru (imitatif), suka-suka (permisif), hanya suka beli dan gila belanja (konsumtif). Jauh dari impian tentang lahirnya generasi penerus bangsa yang produktif dan kreatif. Dengan demikian, mentalitas masyarakat kita (para penonton itu) menjadi suka berkomentar yang dangkal, tidak ilmiah, sekenanya, kacau, dan cenderung emosional.

Keadaan ini semakin diperparah dengan fenomena ketergantungan generasi muda terhadap gawai, sehingga kita harus mewaspadai no mobilephone phobia (nomophobia), semacam kecanduan akut terhadap smartphone. Penderitanya mayoritas anak-anak dan remaja, merasa sangat cemas saat tidak memegang HP. Bahkan, bisa bertingkah di luar kontrol dan membahayakan diri dan orang lain. Beberapa penelitian, American Academy of Pediatrics salah satunya, mengungkapkan tentang efek negatif smartphone dan medsos terhadap kesehatan fisik dan mental anak.

Kita bisa belajar kepada2 kasus yang dialami oleh seorang pelajar SMP dan SMA di Bondowoso yang kecanduan akut game di smartphone pada pertengahan Januari 2018 yang lalu. Keduanya menunjukkan perilaku yang menyimpang, seperti suka mengurung diri di kamar, sensitif, tidak mau bersosialisasi, dan suka marah-marah. Karena itulah setiap keluarga harus membatasi penggunaan medsos dan internet serta perlu edukasi berinternet yang positif untuk anak.

Selanjutnya, gerakan literasi menjadi relevan, solutif, visioner, briliant, namun dibutuhkan keberanian. Masyarakat, utamanya generasi muda, harus diprovokasi untuk giat literasi. Mengapa? Karena motivasi untuk giat literasi saja tidak cukup, bahkan tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik secara signifikan. Era motivasi sudah basi. Kini dan zaman mendatang adalah era provokasi.

Selanjutnya, generasi kita memerlukan tokoh sebagai uswatun hasanah (refferensial persona) yang melakoni giat literasi sepanjang hayatnya. Buya Hamka misalnya. Selain masyhur sebagai ulama besar dan sastrawan, dia juga dikenal sebagai penulis hebat sekaligus pembicara ulung. Dia sangat produktif menulis, baik dalam bentuk opini, buku, novel, sampai maha karyanya Tafsir Al-Azhar. Orientasi kepenulisannya bukan semata faktor finansial, namun merupakan panggilan jiwa yang dimaknai sebagai bentuk kebermanfaatan bagi banyak orang. Dia layak dianugerahi sebagai “literat sepanjang hayat”.

Namun demikian, anak akan meniru perilaku tokoh nyata yang setiap saat dilihatnya di rumah, sekolah, dan masyarakat. Maka, orang tua,guru, dan orang-orang dewasa di lingkungan sekitar tidak hanya menyuruh anak-anak untuk giat membaca dan menulis, namun mereka harus menjadi menjadi tauladan dan memberi contoh nyata giat literasi yang dimaksud. Kata bijak mengatakan, “Lisanul hal afshohu min lisanil maqol, memberi contoh lebih ampuh daripada menyuruh.”

Demikianlah, gerakan literasi harus terus dilakukan pemerintah bersama seluruh stakeholders, karena dalam dunia literasi, dosa besar pemerintah adalah tidak menyediakan buku bermutu dan dosa besar rakyat adalah tidak membaca buku. Semoga berkah!***

Moh. Mahrus Hasan

Penulis adalah Pengurus Pesantren Nurul Ma’rifah Poncogati Bondowoso dan koordinator ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) MAN Bondowoso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here