Peluang Bondowoso Menjadi Produsen Vanili Terbuka Lagi

683
1. Launching kampung vanili di Desa Rejoagung Kecamatan Sumberwringin Kabupaten Bondowoso

BONDOWOSO – Mungkin sebagian besar masyarakat Bondowoso masih ingat, jika kota tape ini pernah menjadi produsen vanili. Tanaman ekspor yang saat ini tengah naik daun ini, nilai satu kilogramnya saja di kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6,2 juta.

Tidak melulu bertumpu pada komuditas kopinya saja, peluang besar komuditi vanili ini nampaknya mulai kembali digeliatkan oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso di masa kepemimpinan Bupati KH Salwa Arifin dan Wakil Bupati Irwan Bachtiar.

Terbukti, akhir November 2018 lalu, Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar berkomitmen dengan PPVI untuk pengembangan pertanian vanili melalui pemberdayaan masyarakat Bondowoso.

Wabup Irwan dalam waktu dekat akan memerintahkan Dinas terkait untuk berkoordinasi aktif menata pertanian vanili dan menjadikan pertanian vanili, sebagai salah satu program unggulan daerah. Ia juga meminta untuk segera mempersentasikan potensi yang ada, khususnya vanili dalam waktu dekat akan dikembangkan di Kabupaten Bondowoso.

Dalam setahun terakhir ini juga, Ketua Perhimpunan Petani Vanili Indonesia (PPVI), Rudi Ginting sudah menginisasi untuk mengembangkan kembali produksi vanili di Kabupaten Bondowoso yang beberapa tahun yang lalu pernah berjaya.

Hal tersebut mendapat dukungan penuh dari Wakil Bupati Irwan Bachtiar, bahkan, saat ini sudah diaplikasikan dalam sebuah uji coba di Desa Rejoagung Kecamatan Sumber Wringin yang difokuskan sebagai pilot project pengembangan komuditi vanili di Bondowoso untuk Indonesia.

Upaya pemerintah dan PPVI tersebut diterjemahkan oleh PJ Sekda, Agung Trihandono, yang menerangkan jika saat ini Pemkab Bondowoso tengah mencanangkan kampung vanili di Desa Rejoagung, sebagai pilot project pengembangan vanili. Disana, PJ Sekda juga melaunching kampung vanili sebagai lokasi pengembangan dan budidaya vanili di lahan seluas 3 hektar.

“Kita mengujicobakan vanili di Desa Rejoagung ini, karena vanili mempunyai potensi yang luar biasa untuk diekspor. Selain itu, disini juga ada tokoh yang konsisten menanam vanili, yaitu pak Artijo pembina Rudi Ginting yang saat ini menghubungi ITB Bandung untuk rencana pengembangan vanili di Kabupaten Bondowoso kedepan,” katanya, Sabtu (8/12/2018).

Konsistensi PPVI untuk mengembangkan vanili di Bondowoso juga diaplikasikan melalui perayaan HUT perdana PPVI di Pesanggrahan Kecamatan Sumber Wringin yang digelar 7-9 Desember kemarin. Disana, lanjut Agung, seluruh pegiat tanaman vanili di seluruh nusantara untuk mengikuti Training of Trainer (ToT) budidaya pertanian vanili tingkat nasional.

“Kegiatan tersebut merupakan inisiasi dari perkumpulan petani vanili Indonesia untuk menjadikan vanili ini sebagai komuditas nasional. Kebetulan juga mendatangkan orang yang tahu betul terkait vanili, yaitu, Ir. Aden Saibatul Hamdi sebagai salah satu mentor dan menghadirkan teman-teman dari Balitbang Pertanian Bogor yang konsisten terkait tanaman vanili,” ujarnya melalui sambungan telepon selulernya.

Rencananya, hasil dari TOT yang digelar tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso pada Januari 2019 mendatang. Kemudian, untuk menindaklanjuti pengembangan tanaman vanili tersebut, Pemkab akan datang ke ITB untuk melakukan MoU dengan rektor ITB bersama Ketua PPVI terkait pengembangan vanili di Bondowoso.

“ITB juga sepakat untuk melakukan study dan pengembanngan vanili di Bondowoso. Karena letak geografis dan klimatologi di Sumber Wringin baik ketingginan dan kelembapannya cocok untuk pengembangan komuditi ini,” terang Agung.

Jika nantinya ada titik terang dan harapan yang jelas terkait pengembangan vanili tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso nantinya akan mengintervensi anggaran pengembangan melalui dana PAK.

“Kalau dari ITB dan PPVI ada titik terang kita akan support anggarannya. Tapi semua tergantung dari hasil pertemuan di Bogor nanti,” paparnya.

PJ Sekda Agung Trihandono menanam bibit vanili secara simbolis

Sementara, Pemkab menginginkan pengembangan vanili di Bondowoso tidak hanya bergerak di hulu saja. Artinya, di hilir perlu ada pendampingan dari berbagai sektor untuk mengawal, agar kualitas, produksi dan pemasaran vanili terus meningkat.

“Kita akan melibatkan banyak pihak. Paling tidak kita akan duduk bareng, baik dari petani, pihak perbangkan, Litbang pertanian sektor ini, PPVI dan pemerintah untuk membahas komudity ini dari hulu ke hilir. Berkaca seperti komudity kopi, paling tidak ada 6-7 pihak yang bakal terlibat. Jadi, kalau hilirnya masuk, tentu hulunya akan baik,” tukasnya.

Melihat potensi vanili yang sangat mungkin dikembangkan di Bondowoso, tentunya bakal menjadi produk lain selain kopi untuk menambah jumlah produk unggulan asli Bondowoso. Paling tidak, vanili ini bisa berdampingan dengan produk kopinya Bondowoso yang kini sudah mendunia.

“Paling tidak, ada brand baru di Bondowoso yang bisa berdampingan dengan kopi. Kalau kopi di masanya Amin Said Husni, Vanili ini akan menjadi produk unggulan di masa kepeminpinan Bupati KH Salwa Arifin dan Irwan Bachtiar,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Asisten I ini.

Sementara, menurut penuturan Rudi Ginting, usai launching kampung kopi di Desa Rejoagung, Jumat (7/12/2018) lalu mengatakan, Rakernas dan HUT ke 1 PPVI , bertujuan mengangkat kembali marwah vanili yang dulu pernah besar di Bondowoso. Hasilnya, nanti dirinya bersama PPVI akan memberikan bibit vanili gratis kepada warga setempat.

“Kita semua berikan bibit kepada masyarakat secara gratis, kita akan berikan pendampingan agar menghasilkan vanili yang berkualitas dan kita juga nantinya yang akan memasarkannya. Bahkan, dalam kegiatan tersebut kami juga mengundang perusahaan eksportir yang langung mengekspor vanili ke Amerika dan Eropa,” sebutnya.

Dirinya berharap dukungan pemerintah secara penuh dan tidak setengah-setengah. Karena, menurut pria yang getol mengembangkan vanili ini, tidak ada upaya yang bisa dilakukan sendirian tanpa dukungan pihak lain.

“Pemerintah daerah tidak bisa berdiri sendiri dalam meningkatkan daerahnya tanpa melibatkan petani. Yang kami lakukan ini hanyalah menyediakan program. Monggo pemerintah ambil, tangkap. Karena yang kami lakukan adalah untuk membesarkan Bondowoso melalui komuditi vanili agar dikenal oleh dunia,” harapnya.

Di sisi lain, salah satu pengusaha dan pengepul vanili asal Bondowoso, Nasrul yang sampai saat ini tetap mencari komuditi ini menyebutkan, tenggelamnya komuditi yang pernah besar di Bondowoso ini tidak luput dari monopoli pengusaha besar dan para mafia vanili yang bermain di lintas eksportir.

“Kenapa vanili di Indonesia sempat macet, karena adanya mafia yang sengaja menenggelamkan kualitas vanili. Namun, sejak 2016 harganya mulai naik di kisaran Rp2,5 juga sampai Rp6 jutaan,” ungkapnya.

Menanggapi launching kampung vanili di Bondowoso, Nasrul menyambut baik program pemerintah yang bekerjasama dengan PPVI tersebut. “Bahkan, jika komudity ini terus mendapatkan pendampingan dari hulu ke hilir, bukan tidak mungkin marwah Bondowoso sebagai penghasil vanili berkualitas akan kembali,” pungkasnya. (rizqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here