Sekda Bondowoso Jadi Tersangka, Kuasa Hukum : Masih Belum Kiamat

922
Sekda Bondowoso Syaifullah yang kini ditetapkan sebagai tersangka kasus ancaman pembunuhan

BONDOWOSO – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bondowoso, Syaifullah tersandung kasus hukum dugaan ancaman pembunuhan terhadap Alun Taufana. Dan kini statusnya sebagai tersangka.

Naiknya status Syaifullah menjadi tersangka diungkapkan oleh Kapolres Bondowoso, AKBP Erick Frendriz saat dikonfirmasi di Mapolres, Senin (15/6/2020).

Awalnya, status Sekda Bondowoso ini masih menjadi saksi. Namun setelah dilakukan gelar perkara oleh Satuan Resort Kriminal (Satreskrim) Polres setempat, Jumat (12/6/2020) lalu, kini dirinya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan ancaman pembunuhan yang pernah dilakukan kepada Alun Taufana yang dianggapnya menghalang-halangi proses pelantikan dirinya.

“Saat gelar perkara kemarin, kita juga telah ekspose Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso,” jelas Erick Frendriz.

Kapolres Bondowoso, AKBP Erick Frendriz

Dikatakannya, Syaifullah melanggar pasal 45B Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik pasal 45 ayat 3 jo pasal 29 UU nomor 11 tahun 2008 tentang informası dan transaksi elektronik jo pasal 335 KUHP.

“Dengan ancaman kurungan penjara dibawah 5 tahun,” ungkap Kapolres Bondowoso ini.

Melalui Kuasa Hukumnya, Sekda Bondowoso Belum Berniat Ajukan Praperadilan

Ditetapkannya Sekda Syaifullah, menjadi tersangka kasus ancaman kekerasan oleh Polres Bondowoso, mendapat tanggapan dari kuasa hukumnya, Husnus Sidqi. Menurutnya, penetapan tersangka kepada kliennya ini adalah hal yang wajar dan biasa.

“Penetapan tersangka itu memang hak dari penyidik berdasarkan bukti-bukti yang mereka miliki. Namun perlu diketahui, penetapan tersebut bukan berarti tersangka memang benar-benar salah. Karena ada asas hukum praduga tak bersalah,” jelasnya melalui sambungan teleponnya, Senin (15/6/2020).

Dikatakan Husnus, pihaknya masih belum menentukan langkah hukum lain seperti mengajukan gugatan Praperadilan.

“Sebagai pejabat publik, Pak Sekda harus memberikan contoh yang baik. Beliau akan mengikuti proses hukum yang berlaku. Kami akan ikuti prosesnya dahulu. Intinya begini, kalau bahasa gampangnya, masih belum kiamat,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pada 29 Juli 2019 silam beredar rekaman percakapan antara Syaifullah dan salah satu staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Bondowoso yang mengancam akan menjadikan semua pegawai BKD sebagai staf. 

Bahkan, dalam rekaman tersebut, ada bahasa akan memenjarakan hingga bahasa pembunuhan kepada Alun Taufana yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala BKD.

Merasa dirinya terancam, Alun Taufana menyampaikan surat pengunduran dirinya kepada Bupati Bondowoso pada 31 Juli 2019. (yudis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here