Seluruh Dokter Spesialis Mengundurkan Diri, Bupati Amin Diminta Ganti Nahkoda Baru RSUD Bondowoso

1670
Seluruh dokter spesialis usai bertemu Bupati (foto : fb Yusdeny Lanasakti)

Bondowoso – Pihak manajemen RSUD Koesnadi Bondowoso dianggap tidak becus dalam menjalankan tugasnya. Bertahun-tahun keluhan para dokter spesialis kepada dr. Agus Suwardjito sebagai Direktur RSUD Koesnadi Bondowoso untuk memperbaiki pelayanan pasien tak pernah didengarkan.

Hasilnya, saat ini seluruh dokter spesialis mengundurkan diri. Secara otomatis, hal ini akan mengganggu operasional pelayanan kesehatan masyarakat di Rumah Sakit.

Inilah 22 dokter spesialis yang mengundurkan diri karena ketidakbecusan pihak manajemen RSUD Koesnadi Bondowoso :

1. Dr. Andreas Andrianto, Sp. B (K) Onk,
2. Dr. Marzuki Sp. M,
3. Dr. LP Sri Tresnasih, Sp. A,
4. Dr. Gede Sumardana Sp. OG,
5. Dr. Rini Widyastuti Sp. THT,
6. Dr. Kamilka Taufiq Sp. S,
7. Dr. DP Astiti Sudewi Sp. Rad,
8. Dr. Suharto Sp. PD,
9. Dr. Sudjono Kardis Sp. KJ,
10. Drg. Eka Widianta Sp. BM,
11. Dr. Gunawan Suratmadji Sp. PD,
12. Dr. Siti Haridah Sp. PA,
13. Dr. Wahyu Prabowo Sp. B,
14. Dr. Rina Setyowati Sp. Ort. MPH,
15. Dr. Nurwahyudi Sp. JP,
16. Dr. Yus Priatna Sp. P,
17. Dr. Puji Elmiasih Sp. PK,
18. Dr. Irma Kurniati Sp. KFR,
19. Dr. Karinda Dwiworo Sp. OG,
20. Dr. Rudy Dewantara Sp. OT,
21. Dr. Yus Deny Sp. PD,
22. Dr. Dian Eka Sp. AN.

Keluhan Dokter Tak Digubris

Kepada bharataonline, dr. Andreas Andrianto mewakili seluruh dokter spesialis menjelaskan jika selama ini pihak manajemen rumah sakit, khususnya Direktur Rumah Sakit, tak pernah menggubris keluhan dokter spesialis. Padahal keluhan yang disampaikan semata-mata agar pelayanan kepada pasien semakin baik.

“sejak 4 tahun lalu, kami, seluruh dokter spesialis memberi masukan ke pihak manajemen Rumah Sakit untuk segera berbenah, mulai dari peralatan sampai pelayanan pasien. Karena bagi kami para dokter, keselamatan pasien adalah yang paling utama,” tegasnya.

Namun, kata Andreas, hal tersebut jauh dari harapan. Seperti misal terkait alat – alat kesehatan yang tidak sesuai. “Kita minta alat A yang datang malah alat B. Akhirnya ya tidak sesuai ,” lanjutnya.

Peralatan medis, sambungnya, sangat penting untuk menunjang proses medis yang ada. Memang terbatasnya anggaran juga menjadi alasan membeli peralatan-peralatan kesehatan, tetapi membangun gedung IGD dengan dana Milyaran saja bisa. Dengan memiliki alat perlengkapan kesehatan sesuai kebutuhan, itu sama saja merupakan investasi dalam jangka waktu yang panjang.

Selain itu, pihak Rumah Sakit wajib menyediakan sarana dan peralatan umum yang dibutuhkan. Menyediakan sarana dan peralatan medik sesuai dengan standar yang berlaku serta menjaga agar semua sarana dan peralatan senantiasa dalam keadaan siap pakai.

“Bagaimana bisa maksimal jika alatnya saja seperti itu, padahal kami para dokter wajib memberikan pelayanan yang baik,” lanjut Andreas.

Tak hanya itu, menariknya, di bulan Oktober kemarin, lampu di rumah sakit tiba – tiba padam. Bahkan sebelumnya, kejadian ini terjadi berulang kali. “Bayangkan saja saat operasi berjalan, berdarah – darah, tiba – tiba lampu padam, ini sangat menggangu proses pelaksanaan operasi. Bahkan saat ditegur, pihak manajemen malah saling tuding dengan jajarannya. Parahnya, tidak ada solusi saat itu, padahal ini untuk keselamatan pasien,” kesalnya.

“Entah mau dibawa ke mana Rumah Sakit jika terus berlangsung seperti ini, semakin tidak jelas arahnya, pihak managemen jalan sendiri, tanpa mau mendengarkan,” imbuhnya.

Respon Bupati Dinilai Lambat

Andreas menyampaikan telah melakukan pertemuan antara seluruh dokter spesialis dengan Bupati Bondowoso. Seluruh persoalan di tubuh RSUD Koesnadi Bondowoso disampaikan dengan gamblang. Namun sampai saat ini, belum juga ada titik terang.

“Kita sudah menyampaikan hal ini ke Bupati, beberapa waktu lalu di pendopo, tapi sampai saat ini belum ada respon. Selain itu juga sudah menyampaikan ke DPRD Bondowoso. Jawaban Bupati hanya normatif saja dan kita mengalami jalan buntu. Karena itu, seluruh dokter spesialis sepakat untuk mengundurkan diri bersama-sama,” ungkapnya.

“Jawaban Bupati hanya sebatas akan kita pelajari, akan diperbaiki komunikasi, kita berusaha tidak membuat kegaduhan, seperti itu saja jawaban Bupati,” kata Andreas meniru ucapan Bupati.

Seluruh dokter menyadari kalau Bupati tentunya punya pertimbangan – pertimbangan tertentu. Tapi, lanjut dr. Andreas, fakta dilapangan, semakin lama kondisi semakin tidak terkendali di internal RSUD.

Seluruh Dokter Ingin Nahkoda Baru

Carut marutnya persoalan ini disebut – sebut karena Direktur RSUD sebagai pemegang kebijakan di Rumah Sakit tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini juga yang telah disampaikan kepada Bupati dan para anggota dewan.

“Kita ingin nahkoda yang memang benar – benar bisa memimpin. Seluruh dokter spesialis berharap kepada Bupati agar segera mengganti nahkoda itu. Ini bukan untuk kepentingan dokter spesialis semata, tapi memang untuk kepentingan pasien, mulai dari keselamatan, kemananan dan mutu pelayanan kepada pasien yang memang harus ditingkatkan,” tegasnya.

Konsep kepemimpinan Direktur RSUD saat ini juga dinilai lemah. Menurutnya, tidak jelas mau dibawa ke arah mana Rumah Sakit ini. Harusnya lebih professional dan benar benar ingin memajukan Rumah Sakit, bukan hanya jalan ditempat seperti ini.

Tetap Melayani Pasien

Meski 22 dokter spesialis mengundurkan diri, namun Andreas memastikan seluruh dokter akan tetap melayani pasien. “Kita tidak akan mengabaikan pasien,” janjinya.

Bagi mereka, tak ada alasan untuk menolak pasien. Hal tersebut merupakan amanah yang wajib dijalankan. (pringgo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here