Setahun, “Bisnis Kayu” di Bondowoso Ditaksir Mencapai 2 Miliar

737
Tumpukan 2 gelondong kayu jenis Mindi yang disimpan di gudang Workshop Dinas PUPR, terkesan ditelantarkan tanpa alas dan atap

BONDOWOSO – Pemotongan pohon sonokeling di area taman Magenda Kelurahan Badean Kecamatan Kota Kabupaten Bondowoso, nampaknya akan menjadi awal terungkapnya dugaan bisnis kayu yang dilakukan oleh oknum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Pasalnya, sejak ramai diberitakan, akhirnya muncul fakta jika Dinas PUPR juga melakukan pemotongan kayu Mindi di wilayah Kecamatan Taman Krocok. Tepatnya, di sepanjang jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampai jalan menuju Desa Kretek.

Fakta lain di lapangan, Dinas PUPR melalui UPT Binamarga Wonosari  juga memotong pohon Gmelina di wilayah Desa Jurang Sapi, Agustus lalu. Mereka juga berdalih telah mengantongi ijin dan kayu yang telah dipotong akan disimpan di gudang workshop milik Dinas PUPR di Desa Locare.

Hal tersebut diakui oleh Kepala UPT Binamarga Wonosari, Noval. Dirinya membenarkan jika pihaknya memotong pohon Mindi di Taman Krocok dan Gmelina di Desa Jurang Sapi, karena telah mengantongi rekomendasi dari Dinas PUPR dan ijin dari DPMPTSP Naker.

“Kami sudah mengantongi rekomendasi dan ijin dari OPD terkait. Nantinya kayu yang telah dipotong akan kami simpan di gudang workshop milik Dinas PUPR,” kata Noval, beberapa waktu lalu.

Namun faktanya, di gudang milik Dinas PUPR, tak satupun ditemukan tumpukan kayu jenis Gmelina. Bahkan, dari puluhan pohon Mindi yang ditebang di wilayah Kecamatan Taman Krocok, yang ada di gudang hanya 2 gelondong saja. Itupun sudah terpotong seukuran kayu yang bisa diolah menjadi bahan bangunan.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Bondowoso, Irwan Bachtiar Rahmat nampaknya geram. Karena, dari data pemotongan pohon yang ia terima dari DPMPTSP Naker, tidak sesuai dengan jumlah kayu yang ada di gudang milik Dinas PUPR. 

“Yang ditebang ratusan pohon. Kenapa kok yang ada di gudang hanya 2 gelondong saja. Kemana sisanya,” tanya Wabup Irwan saat dihubungi, Minggu (17/10/2021).

Wabup juga mengungkapkan, selama tahun 2021 tidak ada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masuk dari sektor ini. Bahkan, dirinya menduga ada praktek ada illegal loging, karena banyak pohon yang tak berijin juga ditebang.

“Belum termasuk yang tak berijin, ya. Yang berijin saja dalam tahun 2021 sebanyak 263 pohon. Itupun tidak termasuk yang di Taman Krocok. Kalau itu diestimasikan, per pohon Rp 7,5 juta, jadi negara (pemerintah daerah, red) dirugikan hampir Rp 2 miliar,” ungkapnya.

Seperti diketahui, hasil investigasi media ini, Minggu (17/10/2021) gudang workshop milik Dinas PUPR tampak sepi dari aktivitas bongkar kayu hasil penebangan. Di lokasi hanya terdapat 2 gelondong kayu Mindi yang terpotong-potong dan terbengkalai tanpa alas dan atap, sehingga terkesan ditelantarkan, bukan disimpan. (rzq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here