Sudahkah Kita Bercermin?

Menuju MUCAB untuk Kebangkitan Pramuka Jember

200

Oleh: Aya Itara El-Hannan (Pemerhati Kepanduan yang pernah menjadi DKC)

TULISAN ini didedikasikan untuk Kepanduan Kwartir Cabang Jember yang selama 20 tahun semakin sepi dari nilai kebersamaan, namun makin gaduh dalam pertarungan ambisi perebutan “kursi”.

Mengawali tulisan ini, penulis ingin menegaskan bahwa penulis bukan siapa-siapa. Bukan bagian dari kabinet lama yang segera lengser dan bukan pula bagian dari calon kabinet baru yang akan duduk di kursi panas kekuasaan.

Penulis hanyalah anggota Pramuka dewasa tanpa embel-embel apapun yang sejak usia dasar sangat mencintai dan mengagumi nilai-nilai agung kepanduan untuk diaplikasikan dalam keseharian.

Tak ada maksud apapun dari tulisan ini selain ungkapan kecintaan dan kerinduan mendalam akan guyub rukunnya Pramuka Jember.

Organisasi kepanduan merupakan organisasi yang sarat akan “simbol” yang merefleksikan bagaimana  kepanduan seharusnya berkiprah di masyarakat. Keterkaitan makna dalam simbol-simbol tersebut menjadi penanda akan keutuhan dan kebulatan tekad organisasi kepanduan untuk memaknai hidup yang terus berubah.

Ikhlas Bakti Bina Bangsa, Ber Budi Bawa Laksana. Pilihan kata “ikhlas Bakti” tentu bukan asal pilih. Makna luar biasa pada idiom tersebut selayaknya menjadi pencuci otak dan sarana penyadaran diri bahwa kepanduan adalah oganisasi nirlaba yang sangat jauh dari kata “mencari untung”.

Dalam dunia pendidikan, memang tidak bisa dihindari adanya upaya mencari keuntungan. Pengambilan keuntungan dengan prosentase yang sangat kecil semata mata bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan dan pemenuhan kebutuhan operasional saja.

Tak sedikit anggota kepanduan yang keliru memaknai idiom tersebut dengan berupaya mendesain kegiatan yang seakan bermakna bagi banyak orang menggunakan sistem sentralisasi. Hanya golongan tertentu yang bisa mengaksesnya dan tertutup untuk golongan yang tidak sevisi.

Jika kekeliruan pemaknaan tersebut tidak segera  diluruskan, gerakan oknum-oknum modus yang berusaha mengambil keuntungan pribadi akan semakin liar sehingga menciderai perjuangan, ketulusan dan keikhlasan dalam berbakti.

Begitu pula dengan makna agung idiom Ber Budi Bawa Laksana. Sampai kapanpun, Kepanduan adalah gerakan moral. Setiap aktifitas yang dilaksanakan harus bermuara pada keagungan moral (akhlak) karena buah dari  ilmu adalah akhlak.

Tak perlu sibuk dengan penghargaan formalitas jika tak membawa banyak kebaikan, kemanfaatan dan kemaslahatan hajat hidup masyarakat. Ribuan Prestasi nan terukir akan menjadi onggokan sampah jika hanya menjadi kebanggaan segelintir orang namun tak bermakna apa-apa untuk masyarakat luas. Prestasi yang hakiki adalah termanifestasikannya nilai-nilai agung kepanduan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak Lord Boden powell mencanangkan kepanduan yang dikemas dengan kegiatan menyenangkan di tahun 1907, kesinambungan nilai-nilai keagungan untuk membangun mental, moral dan jasmani generasi muda tak boleh berhenti berdenyut . Nilai-nilai moral, ideologis dan filosofis gerakan kepanduan harus tetap dipertahankan meski teknologi melejit bombastis.

Musyawarah Cabang (MUCAB) seyogyanya tidak dimaknai sekedar pergantian ketua Kwartir Cabang (Ka. Kwarcab) saja. Kabinet yang tersusun pun harus mencerminkan “pergantian” generasi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial pengkaderan.

Jika kabinet baru nanti terisi “orang” itu-itu saja maka dipastikan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan (abuse power) dan timbulnya kultus individu yang menyebabkan keditaktoran dan kepemiminan otoriter.

Salah satu indikatornya adalah “membuang” orang-orang yang tidak sevisi dengan ribuan dalih. Hal ini tentu mematikan rasa kebersamaan yang menjadi nilai agung dalam kepanduan. Kreasi dan inovasi yang tercipta pun cenderung monoton hingga tak mampu memberikan warna dalam dinamika pergerakan.

“Sejatinya, tidak ada orang bodoh di dunia ini. Kebodohan tercipta karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk mencoba, berkompetisi dan berkembang”

Munculnya dikotomi generasi “jadul’ dan “fresh” hanyalah sebuah narasi licik mengkotak-kotakkan anggota sebagai upaya mempertahankan kekuasaan.

Bukankah perbedaan itu keniscayaan? Bukankah menghargai setiap perbedaan adalah ajaran yang mengakar pada budaya bangsa  nan terbingkai dalam “Bhinneka Tunggal Ika”? 

Menganggap diri lebih baik dari yang lain adalah pengingkaran akan status manusia sebagai makhluk sosial. Tak perlu menghinakan diri dengan menganggap orang lain lebih rendah. Duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi.

Membangun birokrasi yang sehat harus dimulai dari diri sendiri. Sense of belonging akan tercipta jika pemimpin mampu merangkul semua pihak. Budaya organisasi harus dikembangkan sedemikian rupa agar semua elemen dalam organisasi nyaman berinteraksi satu sama lain tanpa saling mengintimidasi dan mencaci.

Saatnya kita berbenah dan bercermin atas borok dan nanah yang ada. Otokritik sangat dibutuhkan pada model birokrasi apapun karena menjadi angin segar perubahan dalam menata ulang problem dan kesenjangan yang ada.

Desas desus, keluhan berkepanjangan dan budaya bergunjing tak akan pernah menjadi solusi terbaik dalam menyelamatkan kapal organisasi yang hampir karam. Ia justru menjadi ombak besar yang menenggalamkan dan mematikan seluruh awak kapal organisasi.

Jika di masa lalu ada 100 organisasi kepanduan (Perkindo) yang meleburkan diri menjadi satu wadah yakni Gerakan Pramuka, mengapa kita tidak duduk bersama membawa semangat kebangkitan menuju perubahan yang lebih baik?.

Wes wayahe Pramuka Jember Bangkit dengan memilih generasi yang benar dan pintar. Kalaupun toh belum ada, memilih orang yang benar meski tak pintar lebih baik daripada memilih orang pintar tapi tidak benar. Penjilat lahir dari kesalahan memilih orang pintar tapi tidak benar.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here