Suka Duka Tim Pemakaman Jenazah Korban Covid-19 di Bondowoso

32
Tim pemakaman jenazah BPBD Bondowoso saat mengubur korban covid-19

BONDOWOSO – Pandemi covid-19 tahun 2021 memberikan pengalaman tersendiri bagi tim pemakaman dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso.

Meningkatnya kasus kematian pasien covid-19, dalam sebulan terakhir hingga diterapkannya PPKM Darurat, membuat BPBD setempat membentuk dua tim pemakaman jenazah. Bahkan, sejak melonjaknya kasus covid-19 di Kabupaten Bondowoso, tim pemakaman jenazah harus siaga 24 jam.

Dengan dihantui rasa was-was tertular, mereka juga rela pengap dan menahan panas berjam-jam memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, saat mengantarkan peti jenazah hingga proses pemakaman. Kadang itupun sampai jam 4 subuh baru selesai.

Suka duka tim pemakaman ini diutarakan oleh Plt Kepala Pelaksan (Kalaksa) BPBD Bondowoso, Adi Sunaryadi. Menurutnya, demi tugas dan tanggung jawab, dua tim pemakaman harus siap siaga dan harus berani menanggung resiko tertular covid-19.

“Untuk tertular sangat rentan. Akan tetapi, kami semua tetap menerapkan SOP yang ketat. Misalnya menggunakan APD lengkap, dan menjaga imun dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi,” terangnya, Jumat (10/7/2021) di ruang kerjanya.

Fenomena di lapangan juga sering membuat tim pemakaman kewalahan. Mereka yang hanya bisa beristirahat di jalan, kadang harus bersitegang dengan keluarga korban saat proses pemakaman.

“Banyak keluarga yang menginginkan agar peti jenazah dibuka dan dimakamkan layaknya jenazah pada umumnya. Akhirnya, untuk meredam adanya keributan, kami terpaksa menyerahkan proses pemakaman kepada pihak keluarga, dengan memberikan APD lengkap,” ujarnya.

Di sisi lain, menjadi petugas pemakaman jenazah covid-19 menjadi pengalaman tersendiri bagi Zikr As. Tanpa rasa takut untuk tertular, pria bertubuh kekar ini tetap semangat melaksanakan tugas sebagai tim pemakaman jenazah covid-19.

“Yang namanya tugas, ya harus dilaksanakan. Meski capek, sehari memakamkan 5 sampai 6 jenazah, kalau semua itu dilakukan dengan iklhas, pasti capeknya hilang,” katanya saat dihubungi melalui telepon selulernya, Sabtu (10/7/2021).

Pria yang akrab dipanggil Ziker ini mengaku, sempat memakamkan jenazah hingga jam 4 subuh. Cuaca dingin selama di perjalanan kembali pengap dan panas kertika menggunakan APD lengkap saat memakamkan jenazah. Meski demikian, Ia mengaku mempunyai kepuasan tersendiri usai melakukan pemakaman maupun evakuasi jenazah.

“Kalau dukanya selalu ada. Akan tetapi saat kembali kepada rasa empati dan kemanusiaan, capek itu hilang. Apalagi melihat kesedihan keluarga korban, itu membuat kami terus bersemangat. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan semuanya kembali normal,” harapnya. (rzq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here