Tahun 2020, Kemendes PDTT Kembangkan Pertanian Berbasis Teknologi di Bondowoso

43
Direktur PSDLH, Ditjen PDTT, Dwi Rudi Hartoyo saat dikonfirmasi usai melakukan sosialisasi di aula Bappeda

BONDOWOSO – Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT) Kemendes Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktur PSDLH, Ditjen PDTT, Dwi Rudi Hartoyo mendukung penerapan teknologi dalam memaksimalkan hasil pertanian untuk mencapai ketahanan pangan.

“Dengan konsep pertanian cerdas secara sederhana bisa diartikan sebagai  precision agriculture  atau bertani yang tepat, karena dapat mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan dari setiap tanaman,” ujar Dwi saat dikonfirmasi usai melakukan sosialisasi di aula Bappeda Bondowoso, Kamis (7/11/2019).

Saat ini pengembangan pertanian presisi berbasis teknologi menyasar minat kaum milenial yang ada di Kabupaten Bondowoso untuk terjun langsung ke sektor pertanian. Hal itu disampaiakn melalui sosialisasi implementasi pertanian untuk mencari bibit-bibit muda, guna meningkatkan kapasitas agar menjadi petani yang mempunyai kemampuan maksimal.

“Tahun 2020 kami memilih Kabupaten Bondowoso, dikarenakan potensi pertanian yang ada di kabupaten tersebut kaya akan komoditi. Jadi sangat relevan sekali, jika kita memilih Bondowoso untuk kita jadikan model dan bisa kita jadikan bahan evaluasi kedepan,” tambahnya.

Sementara, menurut Kepala Bappeda, Farida mengatakan, di tahun 2020 mendatang, Kementrian Desa(Kemendes) memusatkan pulau Jawa untuk satu locus pengembangan pertanian berbasis tekhnologi, salah satunya di Bondowoso.

“Alhamdulillah, Kabupaten Bondowoso menjadi locus pengembangan pertanian berbasis tekhnologi yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Desa,” ungkapnya kepada media.

Dikatakan Farida, desa yang nantinya akan menjadi pilot project dari Pengembangan pertanian tersebut akan memilih para kaum millenial yang mempunyai keinginan untuk maju dan tertarik pada usaha di bidang pertanian.

“Jadi, nanti ini akan terintegrasi dati hulu ke hilir, mulai dari pertanian hingga ke peternakan, jika di satu desa sebagai fokus,” paparnya. Dari pengidentifikasian tersebut, petani jadi lebih paham tindakan apa yang harus dilakukan pada setiap tanamannya. Tanaman mana yang membutuhkan air, tanaman mana yang harus diberikan pestisida, dan tanaman mana yang harus dipupuk.

“Penerapan teknologi di bidang pertanian dapat meningkatkan potensi pertanian karena akan turut menarik perhatian kaum muda untuk ikut serta menggeluti pertanian di Bondowoso,” imbuhnya.

seperti diketahui, sebelumnya, implementasi smart farming di daerah tertinggal terus digenjot oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT). Pada tahun 2019, Ditjen PDT telah menetapkan lima kabupaten daerah tertinggal sebagai lokasi proyek percontohan impelementasi smart farming, yaitu Kabupaten Situbondo, Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Pasaman Barat. (rizqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here