Tak Bayar Hutang, Divisi Industri PT Indah Karya Didemo Supplier

297
Aksi para supplier kayu sengon dan karyawannya di depan kantor Bondowoso Indah Plywood (BIP)

BONDOWOSO – Siapa sangka, Bondowoso Indah Plywood (BIP) yang merupakan divisi industri PT Indah Karya (persero), yang beralamat di jalan Purbakala Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso, masih menanggung hutang kepada supplier kayu sengon.

Alih-alih membayar tunggakan hutang kepada supplier, perusahaan yang akan membangun wind turbine pada Oktober 2020 ini, ternyata telah dua kali didemo oleh suppliernya, karena hutangnya sekitar Rp 8 miliar, hingga saat ini belum dibayarkan.

Aksi pertama dilakukan pada bulan Juni 2020, dimana saat itu, divisi industri perusahaan yang bakal mengekspor wood pellet (PT Indah Karya) di akhir Oktober 2020 ini, masih memiliki tanggungan sebesar Rp9,9 miliar.

Kemudian aksi kedua kalinya kembali dilakukan oleh supplier, Senin (21/9/2020). Pasalnya, selama bulan Juni hingga September 2020, BIP hanya membayar 10 persen dari jumlah hutangnya. Sehingga, sampai September ini masih menanggung hutang sebesar Rp8 miliar.

Padahal, PT Indah Karya yang merupakan induk perusahaan BIP, pada 3 September 2020 kemarin telah mengekspor plywood ke Malaysia, Singapura. Bahkan, dengan menggandeng Mitra KSO Buana Kassiti Grup, perusahaan di bawah naungan BUMN ini akan mengekspor produknya ke Taiwan.

Aksi para supplier kayu sengon di depan kantor BIP, juga diikuti puluhan karyawannya. Mereka menuntut janji pembayaran kayu sengon yang sudah disalurkan sebelumnya kepada BIP.

Dalam aksinya, mereka membentangkan sejumlah spanduk yang bertuliskan sejumlah kritikan dan tuntutan. Seperti diantaranya ‘Bondowoso Indah Plywood Pabrik Tipu-tipu, Bapak Erick Thohir Tolong Kami’ dan lain sebagainya.

Bahkan, sebagai bentuk protes, mereka memblokir jalan dengan 7 potongan kayu sengon berdiameter 40 cm. Kali ini, para pendemo tak main-main dan siap melaporkan tanggungan hutang BIP kepada Kementerian BUMN, jika tidak dilunasi.

“Langkah selanjutnya kami tetap akan tempuh sesuai jalur hukum yang berlaku. Jika BIP tak bisa memutuskan dan menyelesaikan masalah ini, nanti kami akan melangkah ke Menteri BUMN,” tegas kordinator aksi Nanang Sampurno.

Supplier asal Sragen itu, jauh-jauh datang ke Bondowoso dan melakukan aksi hanya untuk menagih hak-haknya. Karena mereka beranggapan selama ini telah dibohongi oleh pihak BIP.

“Dalam kontrak kerja pembayaran dilakukan tiap 2 minggu. Sekarang hampir 1 tahun belum dibayar. Bahkan, barang jadinya (kayu sengon, red) sudah habis,” tambahnya.

Nanang Sampurno menerangkan, jika pihak BIP juga telah berjanji akan memberikan kompensasi tambahan. Sebab, pihak supplier terpaksa berhutang agar bisnis tetap berjalan.

“Akan tetapi, hingga kini kompensasi itu tak kunjung dibayarkan juga. Semua itu hanyalah janji,” keluhnya.

Menurutnya, saat ini BIP punya tunggangan pembayaran sekitar Rp 8 miliar. Hutang pembayaran itu belum terbayarkan hingga kurang lebih dalam satu tahun.

“Pihak perusahaan (BIP) menjanjikan pada Agustus 2020 bakal mencairkan pembayaran 30 persen. Namun, kenyataannya sampai saat ini belum ada pencairan,”urainya

Dijelaskan pula dalam kontrak kerja antara supplier dan BIP itu, pembayaran dilakukan setiap 2 Minggu. Namun, BIP tak memenuhi kesepakatan kontrak kerja tersebut.

“Semua ada kontrak kerja secara resmi dibuat di hadapan notaris. Posisi kami sudah sangat kuat karena ada perjanjian atau kontrak kerja ini. Tetapi ternyata perusahaan selalu mengingkari janji,” jelasnya.

Tak hanya itu, Nanang juga mengungkapkan bahwa pihak supplier tak bekerja sendiri. Akan tetapi mereka punya mitra rekanan dalam menyetok kayu sengon pada BIP. Dan maksud kedatangan para supplier pun untuk meyakinkan para mitra kerjanya, bila BIP belum melakukan pembayaran hutang.

“Beberapa mitra juga belum kami bayar karena masalah ini. Jumlah supplier kayu sengon sendiri sekitar 11 yang berdomisili di Sulawesi, Banyuwangi, Blitar, Sragen, dan Lumajang,” sambungnya.

PT Indah Karya Masih Mencari Skema Pembayaran Hutangnya

Menanggapi aksi demo puluhan supplier kayu sengon di pabrik plywood Bondowoso Indah Plywood (BIP), Asisten Direktur PT Indah Karya, Guskaryadi Arief mengakui jika divisi industri perusahaannya di Bondowoso memang punya tunggakan ke supplier sekitar Rp 8 miliar.

Pihaknya masih berupaya untuk mencari skema untuk melakukan pembayaran, karena kondisi ekonomi di tengah pandemi Covid 19, pihaknya tak bisa langsung membayar penuh.

“Kami komitmen untuk membayar, tapi mohon bersabar. Tidak sebesar yang mereka minta. Karena tidak sabar, saya menganjurkan silahkan langsung ke Bandung (Kantor pusat PT Indah Karya),” jelasnya.

Pabrik memang ada dana, tapi untuk menjalankan roda produksi ke depan. Bahkan pihaknya, sudah menelepon supplier satu persatu agar tetap memasukkan sengon.

“Saya telepon. Pak, udahlah, yang lama kita akan cicil. Bapak masuk lagi kasih log ke kita. Kita langsung bayar. Karen kita ada dana ke depan. Kalau dana itu kita selesaikan untuk membayar ke belakang. Pabrik ini tidak jalan,” paparnya.

Menurutnya, ada beberapa yang menerima tawaran tersebut, dan ada pula penyuplai yang tak mau bekerja sama. “Ada beberapa sudah memasukkan. Paling lama satu minggu kita bayar,” pungkasnya. (rzq/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here