Ziarah Makam Ki Ronggo, Awali Rangkaian Harjabo ke 200

74
2. Wakil Bupati Irwan Bachtiar bersama isteri saat berziarah dan menabur bunga di makam keluarga Ki Ronggo

BONDOWOSO – Berbeda dengan peringatan Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) tahun-tahun sebelumnya, iring-iringan rombongan Wakil Bupati Irwan Bachtiar bersama Forkopimda dan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat, saat berziarah ke makam Ki Ronggo, tahun ini menggunakan becak hias.

Peringatan Harjabo ke 200 kali ini, terkesan merakyat dengan melibatkan sedikitnya 100 tukang becak yang mengangkut rombongan para pejabat di bumi Ki Ronggo ini. Bahkan, antusias warga yang menyaksikan iring-iringan Wakil Bupati nampak begitu tinggi, hingga memadati sepanjang jalan menuju makan Ki Ronggo, Sabtu (29/6/2019).

Setibanya di lapangan Sekarputih, Wakil Bupati beserta isteri diikuti oleh Forkopimda, langsung disambut oleh keluarga Ki Ronggo dan menyerahkan gunungan hasil bumi kepada masyarakat. Disana Wakil Bupati bersama Forkopimda juga melepas 200 ekor burung merpati, atau yang dikenal sebagai tota’an dereh.

Wakil Bupati bersama isteri dan rombongan Forkopimda

Rombongan Wakil Bupati kemudian melanjutkan prosesi ziarah kubur ke makam Ki Ronggo, Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel. Disana, Irwan Bachtiar bersama Forkopimda disambut oleh keluarga keturunan Ki Ronggo, untuk melaksanakan doa bersama dan tabur bunga.

Usai berziarah, Wakil Bupati mengatakan, melalui peringatan Harjabo ke 200, yang diawali dengan ziarah ke makam Ki Ronggo ini, merupakan sebuah ungkapan syukur kepada Allah SWT, dan ungkapan terimakasih kepada para pembabat alas Bondowoso, Ki Ronggo.

“Memasuki usia yang ke 200 tahun ini, kita harus bersyukur karena Bondowoso sampai saat ini masih tetap aman, kondusif dan damai, ditengah hiruk pikuk pesta demokrasi Pileg dan Pilpres yang baru saja kita lewati. Ini yang perlu kita syukuri,” katanya.

Prosesi tottaan dhereh

Irwan Bachtiar menyebut, ada yang berbeda dengan peringatan Harjabo tahun sebelumnya, dimana tahun ini, ada sebuah nuansa kebersamaan antar pemeluk agama, suku bangsa, tanpa membeda-bedakan golongan. Artinya, lanjutnya, di usia yang memasuki dua abad ini, Harjabo harus tampil beda.

“Kita tunjukkan keberagaman, semua masyarakat bisa berpartisipasi. Bondowoso bukan milik satu golongan, tapi milik semua golongan dan Bondowoso didirikan oleh semua golongan. Yang terpenting, semua golongan masyarakat saat ini ikut merasa memiliki Bondowoso,” tegasnya. (rizqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here